Tebang Pilih dan Tidak Serius: Penertiban Lapak Kaki Lima dan Bangunan Tanpa Izin di Sekitaran Fly Over Cileungsi
Cileungsi, Bogor – Faktualtimes.com
Penertiban yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Cileungsi azas tindaklanjut surat pemberitahuan Nomor 300.1.2/162-Trantibum pada tanggal 26 April 2026 tidak dilaksanakan secara serius.
Tebang pilih dan tidak serius, seperti pelaksanaa pada hari Jumat (8/5/2026). Penertiban yang seharusnya menyasar seluruh Pedagang Kali Lima (PKL) dan Bangunan Tanpa Izin di atas trotoar, bahu jalan, saluran irigasi, taman dan tanah milik pemerintah hanya terhadap PKL di kolong fly over, tidak semua ditertibkan. Ada satu area yang sama ada 6 PKL hanya ditertibkan 2 PKL.

Penertiban menyasar PKL kecil, sementara yang PKL tenda dan Bangunan Usaha Tanpa Izin bebas (Foto: MS)
Pedagang di atas trotoar, saluran irigasi dan lahan milik pemerintah seperti pedagang pasar, pecel lele, bubur, nasi rames, produsen ikan tongkol, lapak limbah, parkiran motor, pengeteman angkot, tambal ban, warung kopi, dan lain-lain masih bebas melakukan aktifitasnya alias dibiarkan.
Seorang pelaku pemanfaatan lahan menyatakan bahwa tiap bulan ada pemberian sejumlah uang ke oknum kecamatan, bahkan untuk hariannya melalui koordinator lapangannya ada kutipan sekitar Rp.50.000 per lapak untuk keamanan, lahan, penerangan dan sampah.
Seorang PKL bernisial A menyatakan: “Seharusnya penertiban berlaku untuk semuanya, jangan hanya yang di kolong karena tidak ada setoran, tapi juga kanan kiri juga ditertibkan.”
Seorang petugas Satpol PP yang ditanya oleh PKL menyampaikan penertiban akan dilakukan secara bertahap, tetapi pada kenyataannya permasalahan PKL tidak pernah tuntas ditertibkan, contoh di jalan dan depan Gedung Ramayana puluhan lapak masih ramai berjualan, sehingga terkesan penertiban hanya tebang pilih dan tidak serius, hanya sekedar formalitas bukan mencari solusi permasalahan.
Pedagang berharap ada solusi yang baik dari pemerintah dan sementara belum ada solusi juga dilakukan pembinaan secara bertahap. “Kami hanya sedikit cari makan bukan melakukan kejahatan,” tutur A pelan.
(Sil)
